Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

'Kalau Dedek Mau Pergi, Pergilah dengan Tenang. Ayah Bunda Sudah Ikhlas . . . '

Kehilangan buah hati memang menjadi sebuah cobaan yang amat berat. Itulah yang tampaknya dirasakan pula oleh seorang warganet berjulukan Fitria Indah Lestari. Ia harus lapang dada merelakan kepergian buah hatinya, Muhammad Hafizh Syawal akhir penyakit pneumonia berat.
Foto yang dilampirkan bersama dengan status berisi curhatan (IST / Facebook Destia Eka Pratiwi)
Detik demi detik perjuangan bayi kecil itu diabadikan olehnya. Bahkan ia juga merekam ketika Hafizh dirawat dengan nafas tersengal-sengal.
Kisah yang dibagikannya pada 9 Agustus 2017 ini runtut menceritakan bagaimana perjuangan bayi kecil ini hingga kesannya harus menyerah. Adapun hingga Selasa (15/8/2017), kisah ini sudah dibagikan ulang puluhan ribu kali dan dibanjiri puluhan ribu komentar dari warganet lainnya.
Berikut kisahnya ;
1. Jagoanku pergi ke 'SURGA'
Aku ingin bercerita sedikit perihal kehamilan jagoanku Hafizh hingga melahirkan dan hingga tibanya Hafizh ke surga Yang Mahakuasa SWT.
Setelah melahirkan putri pertamaku (Meydita Salshabilla) dgn cara caesar pada tgl 23 mei 2015, saya pribadi dipasangkan kb IUD oleh dokter operasiku ketika itu. Karna saya lahir secara sc jadi harus menunggu 2-3 tahun untuk hamil lagi. Selama pemasangan IUD haid ku setiap bulan lancar dan teratur. Hingga usia meydita ketika itu 1,5 tahun.
Bulan oktober 2016 saya tidak haid, tidak menyerupai biasanya. Akhirnya saya hirau taacuh dan tidak mempedulikan hal itu. Lalu di bulan november 2016, saya merasa mual dan pusing di pagi hari. Aku mulai curiga dan bertanya tanya kepada suamiku. "ayah, udah 2 bulan saya ga haid" tanyaku. "jgn² kau hamil bun" jawabnya sambil senyam senyum. "iihh, apaan sih kamu. Meydita masih kecil masa mau hamil lg. Masuk angin kali ya aku" kataku mencetus. Akhirnya saya di pijat dan di kerok oleh ibuku sore harinya. Memang sih merah bekas kerokan di punggungku itu, maka itu saya cuma menganggap itu hanya masuk angin biasa.
Keesokan paginya mual dan pusingku bertambah parah, Aku mulai curiga. Akhirnya saya menyuruh suamiku untuk membelikan tespek. "besok pagi saya coba tespek deh" kataku pada suamiku.
Esok paginya saya pribadi ke kamar mandi untuk memastikan dan hasilnya ... Jeng jeng ... Dua garis merah muncul di tespek itu. Aku kaget dan pribadi membangunkan suamiku yg masih tidur. "ayah, ayah ... Liat deh garisnya ada dua" kataku sambil membangunkan suamiku. "hah?? Kamu hamil bun?" katanya yg pribadi terbangun dgn gembiranya. Dan pribadi memfoto hasil tespeknya. "masa hamil lg sih, padahal kan udh pasang kb" kataku bingung. "emang udh dikasih rejeki bun dari Allah, masa mau ditolak" cetusnya. Iya, saya juga sebetulnya senang. Itu berarti Yang Mahakuasa sudah percaya padaku dengan memberiku dua anak sekaligus.
Dan setelah saya hitung hitung kehamilanku, saya akan lahir sebelum/setelah lebaran (idul fitri). "yah, hari perkiraan lahir saya tgl 16 juni. Bisa maju mampu juga mundur, kalo lahirnya pas lebaran gimana ya?" tanyaku pada suamiku. "mudah²an dd nya pengertian bun, lahirnya abis lebaran aja ya de" katanya sambil mencium dan mengelus perutku yg sudah mulai buncit.
Di usia 7 bulan saya usg ke rumah sakit. "jenis kelaminnya perempuan" saya pun senang karna meydita nanti ada sahabat bermainnya.
Di usia 9 bulan, enak rasanya mengandung anak kedua ini. Beda ketika saya mengandung meydita. Setiap ketika pasti mual terus, "kalo yg ini hamilnya enak yah, kaki saya ga bengkak, terus ga pernah mual muntah. Kerjaan saya tidur mulu, katanya kalo 'ngebo' anaknya cowo yah" kataku pada suamiku.
Hpl pun tiba, tapi belum ada tanda² kelahiran. Akhirnya saya pun memutuskan untuk usg lagi ke rumah sakit dan kata dokternya jenis kelaminnya ialah laki-laki, (mungkin ketika usg pertama jenis kelaminnya tertutup makanya kata dokternya perempuan) ya sudahlah laki-laki atau perempuan yg penting sehat dan harus bersyukur. Dokternya bilang saya salah hitungan hpl, katanya hpl ku tanggal 3 juli 2016. "bisa maju, mampu jg mundur bu" katanya. Aku pun mulai hening berarti si dd masih di dlm perut pas lebaran.
Idul fitri pun tiba, belum juga ada tanda tanda kasih sayang. "ih si dd pinter ya, pengertian banget lebaran belum keluar juga" kata suamiku. 
Aku habya membalasnya dengan senyuman. Idulfitri kedua, sorenya saya dan suamiku pergi ke taman untuk mengajak meydita bermain. Pulangnya perutku sakit tak menyerupai biasanya. Aku hanya menganggap itu hal sepele, hingga ditengah perjalanan rasa sakit diperutku tak tertahankan. Dan kami pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, benar saja ternyata saya sudah mulas dari di perjalanan tadi. Operasi sc pun segera di lakukan, karna hb ku sangat rendah, saya harus di transfusi 4 kantong darah sekaligus.
Pukul 24.00 saya masuk ruang operasi. Rasa takut bercampur senang membayangi pikiranku. Badanku rasanya menggigil, operasi kali ini beda dari operasi anak pertamaku sebelumnya. Mungkin karna jahitan bekas operasi pertama di buka kembali, jadi ada reaksi yg membuat tubuhku jadi merasa menggigil. "ahh, gapapa. Yang penting anakku lahir dgn sehat dan selamat" ucapku dalam hati. Pukul 01.05 tepatnya tgl 27 juni 2017 bunyi tangisan yang lucu keluar dari perutku :') "bayinya laki laki ya bu, sehat" ucap dokter. Ya Allah, senang sekali putraku terlahir sehat dan selamat. Dgn berat 3,3 kg dan panjang 47 cm.
Wajah tampannya menatap wajahku yang sudah mulai lesu. Rasa sakit yang ku alami semua sudah terbayarkan dengan kelahiran putraku. Pukul 02.00 operasi selesai dilakukan, saya pribadi dibawa ke ruang rawat inap, dan bayinya akan diantar besok pagi. Akupun tak sabar menunggu hingga esok pagi. Pukul 06.00 putraku diantar ke ruang rawat inap. Dua hari saya dirawat dirumah sakit dan sorenya tgl 29 juni 2017 saya pulang kerumah. Bahagianya aku, anakku kini sudah sepasang. Yang pertama perempuan, dan yang kedua laki laki. Tak pernah sedikitpun saya berfikir akan kehilangan salah satu dari mereka. Sampai saatnya sang Ilahi menjemput putraku ke "SURGA" :').
Pagi itu, tgl 17 juli 2017 kami sekeluarga akan mengadakan pesta cukur rambut dan aqiqah untuk hafizh. Kami pun menginap dari seminggu yang lalu dirumah ibu mertuaku (acara diadakan dirumah ibu mertuaku, karna di rumahku lingkungannya terlalu sempit). Akhirnya pada malam program itu putraku Hafizh ku bawa ke ruang tamu. Karna banyak tamu yg ingin melihat hafizh, saya terlalu sibuk dengan tamu, sampai² saya tak menyadari kalau ada orang yang sedang merokok. Awalnya hafizh baik² saja tak ada kendala. Sampai 2 hari sesudah program itu, hafizh batuk² dan nafasnya tersendat sendat (sesak).
Aku memberitahukan suamiku perihal keadaan hafizh, kesannya saya diberikan obat batuk. Karna hafizh masih terlalu kecil, saya yang minum obatnya (saat itu saya menyusui). Sampai pada tgl 27 juli 2016, batuk dan sesak yang dialami hafizh tak kunjung sembuh juga. Akhirnya kami membawa hafizh ke bidan, dan ditolak dengan alasan masih bayi dan mereka takut memberi obatnya. Ada juga yang bilang harus dibawa kerumah sakit karna nafasnya sangat sesak. Kami pun pribadi memutuskan pergi ke rumah sakit malam itu. Tepat di tgl 27 juli 2017 pukul 20.30 usia hafizh 1 bulan dan malam itu juga hafizh masuk rumah sakit :'( Ya Yang Mahakuasa berat rasanya melihat putraku yang masih terlalu kecil masuk keruang IGD dan divonis mengalami Pneumonia berat, kalau saya mampu meminta ... Aku saja yang terkena penyakit itu daripada saya harus melihat hafizh terbaring lemah dengan infusan, oksigen, suntikan, dan lain lain :'( setiap detik, saya hanya menginginkan kabar baik yang diucapkan oleh dokter.
Sampai pada akhirnya, hafizh harus melaksanakan rotgen biar mampu diteliti lebih dalam penyakitnya. Kami pun meng'iyakan saja apapun yg dilakukan dokter asalkan semuanya demi kebaikan hafizh. Hasil rotgen pun keluar, tetapi kami belum diberitahu apa hasilnya oleh dokter.
Tgl 28 juli 2017 pukul 05.00 hafizh pun dibawa keruang rawat inap, dokter bilang kondisinya mulai membaik. Lega rasanya mendengar kabar baik itu. "ibu, ini anaknya jangan disusuin dulu ya hingga sore, karna takut tersedak. Nanti kita akan pasangkan selang lewat hidung. Kaprikornus nanti minum susunya pake selang" kata dokternya.
Astagfirullah, saya hanya seorang ibu. Apa mampu saya tega melihat anakku sendiri menangis karna kehausan dan tidak saya beri susu??? Dalam hatiku berkata. Aku hanya mengangguk tanda meng'iyakan perkataan dokternya. Sedikit demi sedikit air mataku menetes, mendengar bunyi isak tangis dari anakku sendiri yang sudah mulai serak karna semalam di ruang IGD juga hafizh tak boleh diberi susu. Hanya cairan dari infusannya yang masuk kedalam tubuhnya.
Ya Allah, Aku tak tega melihat semua ujian ini. Selama hafizh terbaring di rumah sakit, akulah yang selalu menemaninya, dan ada disampingnya. 
Hafizh menangis dengan bunyi serak, saya mendengar ia berkali kali mengucapkan "nda ... nda .. enyeh enyeh" sepertinya ia sudah sangat kehausan. Sekali lagi saya meneteskan air mata. Aku bisikkan ia dengan lembut "Hafizh sayang, yang berpengaruh yah. Ada bunda disini, kau pasti cepet sembuh ko, nanti kalo udh sembuh kau nenen yg banyak yah biar cepet ndut :')" kataku sambil menangis terisak. Kemudian hafizh terdiam, ia berhenti menangis. Kulihat hafizh menatapku dalam dalam, menyerupai membuktikan kalau ia akan meninggalkan saya pergi selamanya. Aku pun tersenyum membalas tatapannya.
Malam itu pukul 19.00 hafizh sesak parah, nafasnya berbunyi kencang. Kata dokter ia harus segera dibawa ke ruang PICU. ruangan yang menurutku sangat menegangkan dan memiliki sedikit cita-cita untuk mampu sembuh kembali. Akupun menangis sekeras kerasnya. Aku mulai bertanya tanya "Ya Allah, kenapa Engkau lakukan ini? Kenapa harus hafizh yang menanggung dosa kedua orang tuanya? Kenapa ya Allah???".
Hafizh pun masuk ruang PICU pukul 20.00. Rasa tegang dan deg degan selalu menghantui kami sekeluarga. Setiap panggilan dari dokter pasti kondisi hafizh selalu menurun, air mata selalu hadir setiap waktu dan detik. Siang hari, tgl 29 juli 2017 saya dan suamiku dipanggil ke ruangan PICU.
Dokter menjelaskan hasil rotgennya hafizh "jadi gini bu, pak ... Bayi hafizh ini mengalami pneumonia sangat berat. Ini hasil rotgennya, seharusnya paru parunya itu berwarna hitam. Tapi disini paru paru bayi hafizh hampir putih semua. Hitamnya hanya sebagian aja. Saya minta tanda tangan untuk persetujuan kalau nanti terjadi hal yang tidak diinginkan ya bu, pak". Dengan beratnya saya pun menanda tangani surat persetujuan itu. Seketika pandanganku hilang, semua menjadi gelap. Badanku terasa lemas tak berdaya. Tak dapat terucap kata kata dari mulutku. Hanya tangisan dan tangisan yang membanjiri pipiku. Suamiku juga menangis, kami hampir putus asa dengan semua cobaan ini. semangat kami biar hafizh sembuh pun mulai melayu. Hanya doa dan tawakal dari kamilah cita-cita satu satunya biar hafizh cepat sembuh.
"Ya Allah, berikanlah mukjizatMu. Berilah kesembuhan untuk anak hamba ya Allah. Jangan hukum dia. Ia masih terlalu kecil untuk mendapatkan sakit ini ya Allah" tangisku meledak ledak sudah tak terkendali.
Pagi, pukul 07.00 tgl 30 juli 2017 saya dan suamiku pun dipanggil lagi keruangan PICU. Astagfirullahal 'adzim keadaan hafizh makin memburuk dokter mengatakan bahwa denyut nadinya menurun. "bu, hafizh keadaannya makin menurun. Denyut nadi itu normalnya 90-100, tapi denyut nadinya hafizh ini 70-60 aja ga naik naik. Denyut nadi 70 kebawah itu rasanya menyerupai tenggorokan kita lagi di 'cekek' bu. Bayangin gimana kalo kita lagi di 'cekek'? Engap bu susah untuk menghembuskan nafas" dokter menerangkan.
Ya Allah, saya hanya mampu menangis dan istigfar. Lailaha ilallahu ... Aku pun bertanya "tapi ada kemungkinan untuk sembuh kan dok?". 
"kemungkinannya sedikit sekali. Ibu banyak² berdoa ya untuk hafizh" ucapnya. Aku dan suamiku sudah putus asa, doa dan sholat kami panjatkan untuk kesembuhan hafizh anak kami. Hanya mukjizat dari Yang Mahakuasa yang mampu menyembuhkannya.
Kami pun menunggu diluar ruangan. Berharap ada perubahan dari kondisi hafizh. Sampai pada pukul 10.00 kami pun dipanggil lagi oleh dokter. Rasa takut, tegang, deg degan. bercampuran didalam hatiku. "Ya Yang Mahakuasa semoga keadaan hafizh baik baik aja" kataku cemas. Dokter memanggil saya dan suamiku ke ruangan PICU. "pak, bu ... Ibu sama bapak disini aja ya. Boleh dibisikin dd nya biar ia semangat" Ya Yang Mahakuasa tak tega rasanya melihat bayi sekecil itu tubuhnya dipenuhi selang, infusan, dan bekas suntikan kanan kiri. Nafasnya sudah mulai tersendat sendat hingga dadanya dibantu dokter dengan di tekan tekan pakai jarinya. Matanya sudah mulai lemas dan membiru, ku elus kepalanya sambil ku bacakan doa doa biar hafizh diberikan mukjizat oleh Allah.
Usahaku pun gagal, kesannya saya mengalah dan pasrah. "de, kalo dd mau pergi, bunda, ayah dan semuanya udah lapang dada ko. Bobo yg hening ya de. Bunda sayaaanggg banget sma dd hafizh" ucapku dalam isak tangis. Kucium keningnya dan tak lama hafizh pun "tiada". Innalilahi wa innalillahi roji'un. Semua menjadi sangat gelap. Duniaku telah pergi untuk selamanya. Tangis ku dan tangis suamiku meledak. Segeralah kami menghubungi keluarga kami. Pukul 10.08 wib tanggal 30 juli 2017 Hafizh telah pergi meninggalkan kami. Suara tangis tak henti dari diriku dan keluarga.
"Ya Allah, jikalau ini yg terbaik. Lindungilah hafizh, berikanlah ia daerah yang mengagumkan di surgaMu. Berikanlah ketabahan dan kekuatan untuk kami yang ditinggalkan. Amiin"
sumber : tribunnews.com