Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istana – Istana Kerajaan Di Indonesia Yang Masih Ada Di Kepulauan Maluku

Hal-Hal Aneh DIDUnia 97 

Sampailah kita di tujuan akhirrrrr yaitu Maluku dkk :p yeya cusssss :

1. Istana Ternate, Kota Ternate, Maluku
Sampailah kita di tujuan akhirrrrr yaitu Maluku dkk  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Kepulauan Maluku 
Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kesultanan Ternate mempunyai tugas penting di tempat timur nusantara semenjak kurun XIII hingga kurun XVII. Di masa keemasannya, yakni pada kurun XVI, kekuasaan kesultanan membentang mulai dari seluruh wilayah di Maluku, Sulawesi Utara, kepulauan-kepulauan di Filipina selatan, hingga kepulauan Marshall di Pasifik.

Bahkan Sultan Baabullah yang memimpin Ternate mencapai puncak kejayaan dijuluki penguasa 72 pulau yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, di samping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu.

Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Para mahir waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ini kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipugar, dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Istana ini dipagari oleh dinding berketinggian lebih dari 3 meter, yang mirip benteng. Di lingkungan istana ini juga terdapat komplek pemukiman raja dan keluarganya, dan komplek makam para pendahulu kesultanan. Istana bergaya Eropa yang menghadap ke arah bahari ini, berada dalam satu komplek dengan mesjid kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9.

Desain interior istana penuh dengan hiasan emas. Di ruang kamar cuilan dalam terdapat peninggalan pakaian dari sulaman benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni, mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, cincin, dan gelang yang hampir kesemuanya terbuat dari emas. Hal ini merupakan indikator bahwa Kesultanan Ternate pernah mengalami masa kejayaan.

Di samping itu, istana megah ini juga menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik kesultanan, mirip senjata (senapan, meriam kecil, peluru-peluru bulat, tombak, bendo dan perisai), pakaian besi, pakaian kerajaan, topi-topi perang, alat-alat rumah tangga, dan naskah-naskah kuno (Al-Quran, maklumat, dan surat-surat perjanjian).

2. Istana Tidore, Kota Tidore, Maluku
Sampailah kita di tujuan akhirrrrr yaitu Maluku dkk  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Kepulauan Maluku 
Tidore ialah nama sebuah pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Halmahera dan di sebelah selatan Pulau Ternate. Raja atau kolano pertama yang memakai gelar Sultan di Tidore ialah Caliati atau Jamaluddin yang memerintah pada tahun 1495 hingga 1512. Sebelumnya tidak terdapat catatan sejarah siapa kolano yang berkuasa sebelum Caliati. Namun sejarawan Belanda F.S.A. de Clerq mencatat pada tahun 1334 Tidore dipimpin oleh seseorang yang berjulukan Hasan Syah. Dari nama kolano dan gelar sultan yang dipakai di wilayah Tidore nampaknya dampak Islam telah tersebar disana secara luas.

Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya ialah Ternate, Jaijolo dan Bacan. Namun hanya Tidore dan Ternate-lah yang mempunyai ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur dimana daerahnya mencakup Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya.

Sultan kedua Tidore ialah Almansur yang naik takhta pada tahun 1512 yang lalu tetapkan Mareku sebagai sentra pemerintahan. Ia ialah Sultan yang mendapatkan kedatangan Spanyol di Tidore untuk beraliansi secara strategis sebagai balasan atas aliansi yang dibangun oleh Ternate dan Portugis. Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 8 November 1521. Turut serta dalam rombongan kapal armada Magellan, Pigafetta, seorang etnolog dan sejarawan Italia.

Pada tahun 1524, didasari persaingan ekonomi berupa penguasaan wilayah perdagangan rempah-rempah, pasukan adonan Ternate dan Portugis yang berjumlah 600 orang menyerbu Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Mareku. Hal yang menarik adalah, meskipun serangan adonan tersebut mencapai ibukota Tidore, mereka tidak sanggup menguasai Tidore sepenuhnya dan berhasil dipukul mundur beberapa waktu kemudian. Kegagalan serangan tersebut berujung dilakukannya perjanjian Zaragosa antara Raja Portugis, John III dan Raja Spanyol, Charles V pada tahun 1529. Dengan imbalan sebesar 350.000 ducats, Charles V bersedia melepaskan klaimnya atas Maluku, namun demikian hal tersebut tidak serta merta mengakibatkan seluruh armada Spanyol keluar dari Maluku.

Gubernur Portugis di Ternate, Antonio Galvao, tetapkan untuk kembali meyerang Tidore. Pasukan Portugis mendapatkan kemenangan atas Tidore pada tanggal 21 Desember 1536 dan menimbulkan Tidore harus menjual seluruh rempah-rempahnya kepada Portugis dengan imbalan Portugis akan meninggalkan Tidore.

Kejadian penting lainnya yang patut dicatat ialah terjadinya unifikasi kekuatan Portugis dan Spanyol di Maluku di bawah pimpinan Raja Spanyol pada tahun 1580. Sehingga demikian semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kepulauan Maluku sanggup dipakai oleh kedua belah pihak. Unifikasi ini sesungguhnya didahului oleh kejadian sebelumnya, yaitu penaklukan benteng Portugis-Gamlamo di Ternate oleh Sultan Babullah, Sultan Ternate terbesar, pada tanggal 26 Desember 1575. Menyerahnya Gubernur Portugis terakhir di Maluku, Nuno Pareira de Lacerda, menunjukkan berakhirnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Hal ini menimbulkan mau tidak mau armada perang Portugis membentuk komplotan dengan Spanyol di kepulauan Maluku.

Pada tanggal 26 Maret 1606, Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Don Pedro da Cunha, mulai membaca gerak-gerik VOC-Belanda memperluas wilayah dagangnya hingga Maluku. Karena merasa terancam dengan kehadiran armada dagang VOC-Belanda yang mulai menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ternate, ia memimpin pasukan menggempur Benteng Gamlamo tentu saja dengan pertolongan dari Tidore yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Mole Majimu.

Spanyol berhasil menguasai Benteng Gamlamo di Ternate, tetapi tidak usang sehabis itu VOC Belanda berhasil pula menciptakan benteng yang lalu disebut sebagai “Fort Oranje” pada tahun 1607 di sebelah timur bahari Benteng Gamlamo serta membangun garis demarkasi militer dengan Spanyol.

Gubernur Spanyol di Maluku, Don Francisco de Atienza Ibanez, meninggalkan kepulauan Maluku pada bulan Juni 1663 sehingga berakhirlah kekuasaan Spanyol di Kepulauan Maluku. Dengan tiadanya dukungan militer dari Spanyol, otomatis kekuatan Tidore melemah dan VOC-Belanda menjadi kekuatan militer terbesar satu-satunya di kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah itu.

Namun demikian lambat laun situasi mulai berubah saat Tidore mempunyai Sultan yang terbesar sepanjang sejarah mereka yaitu Sultan Nuku. Pada tahun 1780, Nuku memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Tidore dan menyatakan bahwa kesultanan-nya sebagai wilayah yang merdeka lepas dari kekuasaan VOC-Belanda. Kesultanan Tidore yang dimaksudkan olehnya mencakup semua wilayah Tidore yang utuh yaitu : Halmahera Tengah dan Timur, Makian, Kayoa, Kepulauan Raja Ampat, Papua Daratan, Seram Timur, Kepulauan Keffing, Geser, Seram Laut, Kepulauan Garang, Watubela dan Tor.

Setelah berjuang beberapa tahun, Sultan Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang. Ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Penghujung kurun ke-18 dan permulaan kurun ke-19 ialah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Pada titik ini, kebesaran Sultan Nuku sanggup dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.

3. Istana Bacan, Halmahera Selatan, Halmahera
Sampailah kita di tujuan akhirrrrr yaitu Maluku dkk  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Kepulauan Maluku 
Kesultanan Bacan ialah suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan, Kepulauan Maluku. Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainulabidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Meski berada di Maluku, daerahnya cukup luas hingga ke wilayah Papua Barat. Banyak kepala suku di wilayah Waigeo, Misool yang terletak di Raja Ampat dan beberapa daerah lain yang berada di bawah manajemen pemerintahan kerajaan Bacan.

Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali oleh Portugis yang lalu membangun benteng pada tahun 1558. Bernevald Fort ialah benteng Portugis yang masih utuh berdiri di Pulau Bacan hingga sekarang. Pada tahun 1609 benteng ini diambil alih oleh VOC yang menandai awal penguasaan Hindia Belanda di Pulau Bacan. Pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem kepemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda.

Pulau Bacan tidak hanya mempunyai tugas dalam produksi cengkeh dan pala pada masa itu, akan tetapi juga menjadi sentra kontrol atas produksi dan distribusi cengkeh dan  pala di Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Halmahera.
Yah kita telah berhasil mengelilingi Indonesia mari beristirahat :p
Artikel ini diambil dari
https://springocean83.wordpress.com/2014/04/02/istana-istana-kerajaan-di-indonesia-yang-masih-ada-di-kepulauan-maluku/
Follow My Instagram : brahmasujana 
like + subscribe youtube : https://www.youtube.com/channel/UCTl8PGi3IPV5hIg2PtqweoQ