Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istana – Istana Kerajaan Di Indonesia Yang Masih Ada Di Pulau Jawa

Hal-Hal Aneh DIDUnia 97 

Lanjut gaessss, kini kita cuss ke pulau Java :D kuy :

1. Keraton Sumedang Larang, Sumedang, Jawa Barat
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak kurun ke-16 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dan dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada kurun ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang beropini berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan dan mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan pada masa Prabu Geusan Ulun. Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya lantaran diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka membuatkan Agama Islam. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, sebelum meninggalkan Keraton, Prabu Siliwangi  mengutus empat tangan kanannya untuk pergi ke Kerajaan Sumedang Larang bersama rakyatnya untuk mencari proteksi yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta pemanis lainnya ibarat benten, siger, tampekan, dan kilat bahu. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka sanggup dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bab Kerajaan Sumedang Larang. Prabu Geusan Ulun juga merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, lantaran selanjutnya menjadi bab Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Peninggalan benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang merupakan koleksi yang sangat besar artinya. Gagasan untuk menunjukkan koleksi tersebut ditanggapi dengan penuh keyakinan oleh keturunan keluarga Sumedang sehingga direncanakan untuk menciptakan museum. Setelah diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga ini berdiri.

Museum tersebut diberi nama Museum Yayasan Pangeran Sumedang, dan dikelola eksklusif oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Pada tahun 1974, di Sumedang diadakan Seminar Sejarah oleh ahli-ahli sejarah se-Jawa Barat dan diikuti mahir sejarah dari Yayasan Pangeran Sumedang. Dalam seminar tersebut dibahas nama untuk museum Sumedang. Diusulkan nama museum yaitu seorang tokoh dalam Sejarah Sumedang, dan ternyata yang disepakati yaitu nama raja terakhir yang memerintah Kerajaan Sumedang Larang dari tahun, yaitu Prabu Geusan Oeloen. Kemudian nama museum ini diganti menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan gres untuk memudahkan penyebutan.

2. Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Keraton yang didirikan pada tahun 1452 oleh Pangeran Cakrabuana ini yaitu keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun populer paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya.

Keraton ini mempunyai museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta ini dikala ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.

Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja yang mempunyai sembilan kain berwarna di latar belakangnya yang melambangkan sosok Wali Songo.

3. Keraton Kanoman, Cirebon, Jawa Barat
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Keraton Kanoman yaitu Kesultanan Cirebon. Setelah berdirinya Keraton Kanoman pada tahun 1678 M, Kesultanan Cirebon terdiri dari Keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman yang merupakan pemimpin dan wakilnya. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati yaitu orang yang bertanggung jawab membuatkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara perihal Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melakukan tradisi Grebeg Syawal,seminggu sehabis Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang ulet dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.

Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang pasar. Di keraton ini tinggal sultan ke dua belas yang berjulukan Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Keraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari bangunan kuno. Salah satunya saung yang berjulukan bangsal witana yang merupakan cikal bakal keraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.

Di keraton ini masih terdapat barang barang, ibarat dua kereta berjulukan Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi’raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah program ibarat Maulid Nabi. Di bab tengah Kraton terdapat kompleks bangunan bangunan berjulukan Siti Hinggil.

4. Keraton Kacirebonan, Cirebon, Jawa Barat
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Kacirebonan yang dibangun pada tahun 1800 M ini berada di wilayah kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 km sebelah barat daya dari Keraton Kasepuhan dan kurang lebih 500 meter sebelah selatan Keraton Kanoman.

Bangunan kolonial ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan sejarah ibarat keris, wayang,  perlengkapan perang, gamelan dan lain-lain. Seperti halnya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman,  Kacirebonan pun tetap menjaga, melestarikan serta melakukan kebiasaan dan upacara sopan santun seperti Upacara Pajang Jimat dan sebagainya.

5. Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah 
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Keraton yang lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat ini yaitu istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akhir Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana ini selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini lalu dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga dikala ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Solo. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan banyak sekali koleksi milik kasunanan, termasuk banyak sekali pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu rujukan arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini yaitu Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwoni I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh lantaran itu, tidaklah mengherankan kalau pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut banyak mempunyai persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang sanggup disaksikan kini ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara sedikit demi sedikit dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya adonan Jawa-Eropa.

6. Pura (Puro) Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Ini merupakan istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun sehabis tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil.

Pura ini dibangun sehabis Perjanjian Salatiga  yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran dan dua tahun sehabis dilaksanakannya Perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta oleh VOC (Kompeni) pada tahun 1755. Kerajaan Surakarta terpisah sehabis Pangeran Raden Mas Said terus memberontak pada VOC (Kompeni) dan atas kontribusi sunan mendirikan kerajaan sendiri tahun 1757. Raden Mas Said menggunakan gelar Mangkunegoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian Sungai Pepe (Kali Pepe) di sentra kota yang kini berjulukan Solo.

Secara arsitektur, bangunan ini mempunyai ciri yang sama dengan keratin, yaitu padapamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh. Seperti bangunan utama di keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta, Puro Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan colonial Belanda di Jawa Tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang popular dikala itu.

7. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa
Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah spesial Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bab Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga dikala ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan banyak sekali koleksi milik kesultanan, termasuk banyak sekali pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu rujukan arsitektur istana Jawa yang terbaik, mempunyai balairung-balairung glamor dan lapangan serta paviliun yang luas.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon yaitu bekas sebuah pesanggarahan yang berjulukan Garjitawati. Pesanggrahan ini dipakai untuk istirahat iring-iringan mayat raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang kini termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.
Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta mempunyai tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta mempunyai banyak sekali warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah.

Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu forum sopan santun lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh jadinya tidaklah mengherankan kalau nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untuk itulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

8. Puro Paku Alaman, Yogyakarta, D.I. Yogayakarta
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Bangunan ini merupakan bekas Istana kecil Kadipaten Paku Alaman yang menjadi tempat tinggal resmi para Pangeran Paku Alam mulai tahun 1813 sampai dengan tahun 1950, ketika pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menyebabkan Kadipaten Paku Alaman (bersama-sama Kesultanan Yogyakarta) sebagai sebuah tempat berotonomi khusus setingkat provinsi yang berjulukan Daerah spesial Yogyakarta.

Puro Paku Alaman ini yaitu sebuah istana kecil kalau dibandingkan dengan Keraton Yogyakarta. Ini menunjukkan kedudukan kadipaten ini yang walaupun sebagai negara berdaulat di luar Kesultanan Yogyakarta, namun tetap setingkat di bawahnya.

Semula Puro Paku Alaman merupakan Lembaga Istana yang mengurusi raja dan keluarga kerajaan disamping menjadi sentra pemerintahan Kadipaten Paku Alaman. Setelah Kadipaten Paku Alaman gotong royong Kesultanan Yogyakarta diubah statusnya dari negara menjadi Daerah spesial setingkat Provinsi secara resmi pada 1950, Puro Paku Alaman mulai dipisahkan dari Pemerintahan Daerah spesial dan di-depolitisasi sehingga hanya menjadi sebuah Lembaga Pemangku Adat Jawa khususnya garis/gaya Paku Alaman Yogyakarta. Namun budaya Jawa gaya ini kurang begitu terlihat dan kuat di Yogyakarta mengingat wilayah Kadipaten Paku Alam yang kecil dan terletak jauh di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo sekarang.

Namun demikian ada perbedaan antara Puro Paku Alaman Yogyakarta dengan Istana kerajaan-kerajaan Nusantara yang lain. Sri Paduka Paku Alam selain sebagai Yang Dipertuan Pemangku Tahta Adat /Kepala Puro Paku Alaman, juga mempunyai kedudukan yang khusus dalam bidang pemerintahan sebagai bentuk keistimewaan tempat Yogyakarta. Dari permulaan DIY berdiri (de facto 1946 dan de yure 1950) hingga tahun 1998 Sri Paduka Paku Alam secara otomatis diangkat sebagai Wakil Gubernur/Wakil Kepala Daerah spesial yang tidak terikat dengan ketentuan masa jabatan, syarat, dan cara pengangkatan Wakil Gubernur/Wakil Kepala Daerah lainnya. 

9. Keraton Sumenep, Sumenep,  Jawa Timur
Kerajaan Sumedang Larang yaitu salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri semenjak  Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Jawa 
Dulunya bangunan ini merupakan tempat kediaman resmi para Adipati/Raja-Raja, selain sebagai tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Kerajaan Sumenep sendiri sanggup dibilang sifatnya sebagai kerajaan kecil (setingkat Kadipaten) kala itu, alasannya sebelum wilayah Sumenep dikusai VOC wilayah Sumenep sendiri masih harus membayar upeti kepada kerajaan-kerajaan besar (Singhasari, Majapahit, dan Kasultanan Mataram).

Keraton Sumenep sejatinya banyak jumlahnya. Saat ini bangunan keraton yang masih tersisa dan utuh yaitu bangunan Karaton Pajagalan atau lebih dikenal Karaton Songennep yang dibangun oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) beserta keturunannya yakni Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat dan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro). Sedangkan untuk bangunan keraton-keraton milik Adipati/Raja yang lainnya, ibarat Karaton Pangeran Siding Puri di Parsanga, Karaton Tumenggung Kanduruan, Karaton Pangeran Lor dan Pangeran Wetan di Karangduak hanya tinggal sisa puing bangunannya saja yakni hanya berupa pintu gerbang dan umpak pondasi bangunan Keraton.
Artikel ini diambil dari
https://springocean83.wordpress.com/2014/03/31/istana-istana-kerajaan-di-indonesia-yang-masih-ada-di-pulau-jawa/
Follow My Instagram : brahmasujana 
like + subscribe youtube : https://www.youtube.com/channel/UCTl8PGi3IPV5hIg2PtqweoQ